ANALISIS FUNGSIONAL STRUKTURAL DALAM SURAT AL-ISRA’ AYAT
23 TENTANG PERUBAHAN ADAB ANAK TERHADAP ORANG TUA DI DESA KETITANG LOR KECAMATAN BOJONG
Matsna
khuzaimah
Institut
Agama Islam Negeri Pekalongan
Abstrak:
Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui penyebab dari
perubahan adab anak terhadap orang tua di desa Ketitang Lor Kecamatan Bojong, serta mecari solisi untuk memperbaiki
adab anak tersebut. Penelitian ini lebih difokuskan pada teori fungsional
struktural dalam prespektif Talcon Person.
Kata Kunci: Fungsional
Struktural, Adab, Al-Isra’: 23
Abstract:
The study aimed at learning the cause of the child's conversion to parents in the village of ketitang lor, bojong district, and seeking solutions to correct the boy's manners. The research is focused more ona functional theory of structural in talcon person prespeculative.
Keywords: Functional Structural, courtesy, al-Isra’: 23
Pendahuluan
Manusia sebagai makhluk sosial tentu paham akan adanya adab yang
perlu tertanam pada setiap individu, entah itu adab terhadap diri sendiri,
orang tua, masyarakat, dan pada hal lain. Setiap individu akan memiliki adab
yang baik melalui pendidikan adab dikalangan masyarakat maupun keluarga.
Keluarga merupakan salah satu faktor internal yang dapat mempengaruhi gaya
hidup individu. Keluarga yang dimaksud disini adalah orang tua yang merupakan
agen sosialisasi dan juga memiliki otoritas terhadap perkembangan anak.
Orang tua memiliki peran yang penting dalam perkembangan anak, baik
dari nilai-nilai moral, agama, dan norma-norma sosial yang dikenalkan melalui
interaksi didalam lingkungan keluarga. Orang tua didefinisikan sebagai ayah dan
ibu. Ayah merupakan penanguung jawab dan pelindung anak dalam segala hal, baik
dari segi keamanan, kesehatan, pendidikan, daan lain-lain. Ibu sebagai kawan
setia seorang ayah berfungsi sebagai pendidik, pemelihara keluarga dengan
menciptakan kenyamanan dan kedamaian rumah tangga. Pola asuh orang tua secara
tidak langsung mempengaruhi kebiasaan anak yang akan berdampak pada gaya
hidupnya (Munir Sudarsono :1992).
Kemampuan sosial penting untuk dikembangkan sejak dini seiring
dengan perkembangan dunia yang semakain maju dan teknologi yang semakin
canggih, harus ada orang-orang yang memiliki kemampuan sosial yang baik dalam
segala aspek, khususnya kehidupan sosial. Dengan berubahnya perilaku seorang
anak karena perubahan zaman, peran orang tua sangatalah penting. Karena Orang
tua yang menjadi pendidik pertama bagi seorang anak, Sehingga apapun yang
terjadi pada anak, bisa karena sebab orang tua. Tetapi tidak hanya orang tua,
lingkungan juga memiliki dampak yang cukup besar bagi perkembangan sang anak. Salah satu ayat al-Qur’an
tentang harus berperilaku baik terhadap orang tua adalah QS. Al-Isra’ ayat 23:
۞ وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ
وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ
اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا
وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا ( الاسراۤء/17: 23)
Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah
selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di
antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu,
maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan
janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan
yang baik.”
Adanya perubahan adab anak terhadap orang tua,
membuat peneliti tertarik untuk mengkajinya. Apa saja yang menjadi faktor dari
perubahan adab anak terhadap orang tua?, lalu bagaimana teori fungsional struktural
memaparkan perubahan adab anak terhadap orang tua?. Dengan menggunakan teori struktural
fungsional, diharap peneliti dapat menjawab dari permasalahan yang ada.
Metode Penelitian
Dari permasalahan diatas maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
pemahaman (meaning). Jenis dari penelitian ini adalah kualitatif, jadi
pendekatan yang digunakan juga bersifat kualitatif. Penelitian kualitatif
adalah penelitian yang lebih menekankan kualitas secara alamiah, karena
berkaitan dengan pengertian, konsep, nilai dan ciri-ciri yang melekat opada
objek penelitian (kaelan, 2005: 5). Sumber data dalam penelitian ini meliputi
wawancara (sumber primer), dokumtasi dab observasi (sumer sekunder). Wawancara dilakukan
langsung kepada warga desa Ketitang Lor Kecamatan Bojong. Sedangkan dokumentasi
berupa foto, catatan, buku, dan lainnya
yang memiliki kerterkaitan dengan perubahan adab anak terhadap orang tua di
desa tersebut.
Pembahasan
A.
Pengertian Adab
Adab secara bahasa adalah kehalusan budi pekerti, dan kesopanan,
jadi beradab yaitu orang mempunyai budi pekerti yang baik (Hasan Alwi:2005).
Sedangkan secara istilah adab diartikan sebagai kebaikan yang tertanam dalam
diri manusia sebagai pribadi yang baik (Abdul Haris: 2010). Makna adab selalu
bervariasi dari zaman ke zaman dan dari satu konteks ke konteks yang lain. Pemaknaan
tertua kata adab mengaplikasikan suatu
kebiasaan, norma tingkah laku praktis, dengan konotasi ganda, yakni: pertama,
nilai tersebut dipandang terpuji, kedua, nilai tersebut diwariskan
dari generasi ke generasi. Dengan demikiran adab adalah konsep yang tidak cukup
hanya diketahui, akan tetapi harus dihayati dan dipraktikan seseorang untuk
menyempurnakan hidupnya (Hasan Asari: 2004).
Al Mawardi membagi adab menjadi dua yaitu adab ad dunya dan adab
ad din. Menurutnya adab ad dunya dibagi menjadi dua, yaitu: (a) Etika
sosial yang berkaitan dengan ketertiban dan pengaturan kenegaraan, kebangsaan,
etika publik, politik, dan segala persoalan yang bersifat kolektif diranah
sosial. (b) Etika individu dimana masing masing warga negara bertanggung jawab
dalam memperbaiki perilaku dan menampakan kebaikan personal. Sedangkan adab
ad din, yaitu etika dalam aturan syariat, seperti perintah-larangan,
halal-haram, dan lain-lain (Mawardi: 2009). Beliau menambahkan bahwa adab ialah
kebaikan manusia, seperti kerendahan hati, sikap yang baik, kesederhanaa,
kontrol diri, amanah, dan kebakan soaial, seperti menjaga kepercayaan dan
keputusan dimana dalam bahasa arab adab anak terhadap orang tua disebut dengan birr
al wa lidayn (Dedi Supriyadi: 2010).
Hubungan baik antara orang tua dan anak sering disebut dengan
ihsan, oleh karena itu setiap individu dianjurkan untuk berbakti kepada kedua
orang tua dengan sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya. Dari penjelasan diatas
dapat disimpulkan bahwa adab anak terhadap orang tua adalah berbuat baik kepada
keduanya, dengan ihsan dan sopan santun (Abu Hamid: 2009).
B.
Faktor-Faktor yang Mempengarui Perubahan Adab Anak Terhadap Orang
Tua.
·
Beberapak faktor yag mempengaruhi perubahan adab anak pada orang tua
antara lain:
1)
Kurang tertanamnya nilai religius.
2)
Suasana rumah tangga yang kurang baik.
3)
Kurangnya kesadaran orang tua tentang pendidikan adab pada anak.
4)
Kurangnya bimbingan untuk mengisi waktu luang.
5)
Perkembangan zaman yang semakin maju.
Dari faktor
diatas, menyimpulkan bahwa orang tua harus lebih menanamkan nilai-nilai agama,
budi pekerti, dan lebih memberikan bimbingan pada anak pada waktu luang. Disisi lain rumah tangga antara ibu dan ayah juga harus baik,
jangan sampai ada konflik yang dapat berpengaruh pada anak. Karena anak
membutuhkan bimbingan baik untuk menerapkan nilai moral serta agama untuk
kebaikannya.
·
Jenis-jenis pola asuh orang tua:
1)
Pola Asuh Permisif : dimana orang
tua memberikan kebebasan penuh kepada si anak dalam berperilaku. Hal ini
dilakukan agar sang anak memberi keputusan untuk dirinya sendiri, dan berperilaku menurut apa
yang diinginkannya tanpa pkontrol dari orang tua. Pola asuh ini menyebabkan
perkembangan kepribadian anak tidak terarah, dan mudah mengalami kesulitan jika
harus menghadapi larangan-larangan yang ada dilingkungannya (Singgih Gunarsa:
2002).
2)
Pola Asuh Otoriter : dimana orang
tua menerapkan batasan yang harus di teeti, tanpa memberi kesempatan anak untuk
berpendapat, hal ini menyebabkan anak kehilangan kebebasan, inisistif dan
aktifitasnya menjadi kurang, sehingga anak menjadi tidak percaya diri pada
kemampuannya. Anak yang dididik dengan pola ini cenderung memiliki kedisiplinan
dan kepatuhan yang semu (Siti Anisa : 2005).
3)
Pola Asuh Demokrtasis :
dimana orang tua memperlihatkan dan menghargai kebebasan yang tidak mutlak,
dengan bimbingan yang penuh kepada anak, memberi penjelasan secara rasional dan
objektif jika keinginan dan pendapat anak tidak sesuai. Dalam pola asuh ini,
anak tumbuh dengan rasa tanggunng jawab, mampu bertindak sesuaidengan norma
yang ada.
C.
Penerapan Akhlak Anak Terhadap Orang Tua Menurut Teori Fungsional
Struktural
Teori Fungsional struktural, memiliki sudut pandang yang menarik
dalam melihat perubahan sosial. Dimana bentuk perubahan sosial tidak dapat
dikendalikan sepenuhnya oleh siapapun, kebangkitan dan kemunduran suatu
peradaban (budaya) tidak dapat dielakan, dan tidak selamanya perubahan sosial
meniliki dampak positif. Perubahan yang dikehendaki merupakan perubahan yang
telah direncanakan oleh orang yang akan mengadakan perubahan didalam
masyarakat. Sedangkan perubahan yang tidak dikehendaki merupakan perubahan yang
berlanngsung diluar jangkauan pengawasan masyarakat, dan dapat menyebabkan
timbulnya akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan (Soerjono Soekanto: 1990).
Ada beberapa kondisi sosial primer yang menyebabkan terjadinya
perubahan, seperti: kondisi ekonomis, teknologis, geografis, atau biologis yang
menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan dalam aspek-aspek kehidupan sosial
lainnya. Teori perubahan sosial ini mengamati tentang bagaimana suatu
masyarakat berubah serta berproses kepada perubahan (Manur Faqih: 2002).
Perubahan adab anak terhadap orang tua menurut teori ini tidak
dipengaruhi oleh siapapun, dan kemunduran suatu peradaban tidak dapat dielakan,
karena tidak setiap perubahan bersifat positif. Salah satu perubahan yang
dikatakan tidak positif adalah adab anak
terhadaap orang tua. Dengan berkembangnya zaman yang semakin pesat, sehingga
anak diharuskan untuk berinteraksi dengan kehidupan yang dihadapinya sekarang,
dimana menjadikan banyak perubahan dari sisi kepribadian dan pola hidup anak,
Salah satunya tentang adab.
Perbedaan adab anak terhadap orang terdahulu, bahwa dimana adab
anak sangat sopan baik tindak-tunduknya maupun dalam berbicara kepada orang
tuanya. Akan tetapi dengan berubahnya
zaman yang menjadikan perubahan pola hidup anak, menjadikan nilai adab yang diajarkan
dan tertanam sejak kecil berubah, seperti: adab dalam berperilaku dan adab
berbicara. Dimana sekarang kesopanan anak terhadap orang tua tidak diartikan
sebagai sesuatu pembicaraan dengan bahasa kromo alus, tapi sekarang asal tidak
membantah walaupun bahasanya kasar dikatan adab yang baik, padahal itu berbeda.
Oleh karena itu orang tua harus memiliki pola asuh yang tepat untuk
mendidik anak dari kecil hingga dewasa, yang kelak akan menjadi bekal
tersendiri bagi anak dalam menjalani kehidupan masa depan.
Penutup
Salah satu siklus (perubahan sosial) yang terjadi didalam
masyarakat adalah perubahan adab anak terhadap orang tua, dimana hal ini disebabkan oleh beberapa
faktor yang melatar belakanginya. Dengan perkembangan zaman sekarang ini,
banyak sekali perubahan-perubahan yeng terjadi dalam masyarakat, khususnya pada
keluarga. Anak sekarang cenderung berubah perilakunya/adabnya dikarenakan pola
hidup dari keluarga maupun masyarakat sekitarnya. Sebagai orang tua hal yang
harus dilakukan adalah mendidik anak dengan pola asuh yang tepat sesuai dengan
perkembangan zaman yang terjadi.
DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Hasan. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka.
Anisa, Siti. Kontribusi
Pola Asuh Orang Tua Terhadap Kemandirian Siswa Kelas II SMA Negri 1 Balapulang
Kabupaten Tegal Tahun Pelajaran 2004/2005, Universitas Negri Semarang.
Asari, Hasan. 2004. Akademis dalam Islam. Jakarta: Tiara
Wacana.
Faqih, Manur. 2002. Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi.
Yogyakarta: Hasist Press.
Gunarsa, Singgih. 2002. Psikologi
Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: Gunung Mulia.
Hamid, Abu. 2009. Super
Berkah; Buah Manis Berbakti Kepada Ibu Bapak. Bandung : Pustaka Hidayah.
Haris, Abdul. 2010. Etika Hamka. Yogyakarta:
LKIS Yogyakarta.
Kaelan. 2005. Metode Penelitian
Kualitatif Bidang Filsafat. (Yogyakarta: Paradigma).
Mawardi. 2009. Jalan Meraih
Kebahagiaan Dunia dan Akhirat. Jakarta: Sahara Intisains.
Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta:
Raja Grafindo Persada.
Sudarsono, Munir. 1992. Dasar-dasar Agama Islam. Jakarta:
Rineka Cipta.
Supriyadi, Dedi. 2010. Pengantar Filsafat Islam. Bandung: CV.
Pustaka Setia.