MAKALAH
PEMBELAJARAN
AL-QURAN DI PESANTREN TAHSINUL QUR’AN AT-TAHIYAT BOJONG PEKALONGAN
SEBAGAI HABITUS DENGAN PENDEKATAN BORDIEU
Oleh: Matsna Khuzaimah (3118055)
Kelas : IAT A
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Mempelajari suatu ilmu wajib
hukumnya bagi seorang sanri, baik ilmu yang dipelajari berupa ilmu umum ataupun
ilmu agama. Salah satu ilmu yang wajib dipelajari seorang sntri adalah ilmu
tentang mempelajari al-Qur’an. Beberapa ilmu ilmu untuk mempelajari al-Qur’an
diantaranya ilmu tajwid, tilawah, tartil dan masih banyak lagi.
Seorang santri haruslah bisa membaca
al-Qur’an, dan akan lebih baik lagi apabila bisa memahami al-Qur’an. Setiap
pesantren pastilah memiliki ciri khas atau pola pikir dan karakter dalam
pembelajaran al-Qur’an. Dalam pesantren, banyak kegiatan yang berhubungan
dengan pembelajaran al-Qur’an. Adanya kegiatan tersebut pastilah sangat berbeda
dengan kegiatan di luar pesantren.
Kegiatan belajar di pesantren itu
menjadi pola hidup yang cukup berpengaruh dalam pendengaran santri terhadap
pembelajaran al-Qur’an. Kebiasaan dalam pembelajaran al-Qur’an tersebut menjadi
sesuatu yang mengakar dalam pribadi para santri yang menurut teori bahasa
bourdieu disebut dengan habitus. Habitus ini secara langsung ataupun tidak pada
akhirnya akan merubah pola pikir khas pesantren. Dari pola pikir tersebut
memungkinkan terbentuknya pola pemahaman sekaligus pola hidup. (Nafisyah, Skripsi,
2015: 3-4)
B.
Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, jadi masalah yang akan dikaji adalah:
1.
Bagaimana
habitus pembelajaran al-Qur’an di Pesantren Tahsinul Qur’an At-Tahiyat?
2.
Apa tujuan
pemebelajaran al-Qur’an di Pesantren Tahsinul Qur’an At-Tahiyat sebagai
habitus?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Habitus Pembelajaran Al-Qur’an
Bourdieu adalah seorang sosiolog
yang pemikirannya cukup sulit untuk dipahami. Penyebab dari pemikirannya yang
cukup sulit dipahami karena pemikirannya diwarnai oleh konsep yang relatif
baru. Namun sesungguhnya konsep yang dipakai oleh Bourdieu memiliki arti yang sama
dengan tokoh sosiolog lainnya. Bourdieu memiliki beberapa konsep dasar, yaitu
modal; kelas; habitus; dan kekerasan dan kekuasaan. (Martono, 2012: 32-38).
Sebenarnya konsep habitus bukan konsep
yang diciptakan oleh Bourdieu. Konsep ini adalah konsep yang dikemukakan oleh
Marcel Mause yang kemudian di perluas oleh Bourdieu. (Martono, 2012:
36).
Habitus merupakan struktur subjektif yang terbentuk dari pengalaman individu
berhubungan individu lain dalam jaringan struktur objektif yang ada di dalam
ruangan sosial. Habitus bisa dikatakan sebagai ketidaksadaran kultural, yaitu
pengalaman sejarah yang tidak disadari dianggap ilmiah. Sehingga, habitus yaitu
produk sejarah yang terbentuk setelah manusia lahir dari berinteraksi dengan
masyarakat dalam ruang dan waktu tertentu.
(Ma’rifah, Jurnal, 2015: 358).
Salah satu habitus atau kebiasaan yang
terjadi tanpa sadar dan terus menerus di pesantren adalah pembelajaran,
utamanya pembelajaran al-Qur'an. Meskipun awal dari pembelajaran itu pasti
diawali dengan adanya latihan-latihan terhadap norma-norma kemudian membiasakan
santri untuk melakukannya. (Apriyanti,
Tesis, 2019: 26). Al-Qur’an adalah kitab suci yang dijadikan pegangan hidup
seluruh umat Islam di dunia yang diturunkan kepada Rasulullah SAW untuk seluruh
umat manusia. Al-Qur’an mengajarkan manusia cara beribadah kepada Allah
sekaligus menunjukkan kepada manusia di mana letak kebaikan. (Amana, Skripsi,
2015: 1). Hukum mempelajari al-Qur'an adalah fardhu kifayah,
sedangkan membacanya secara tartil hukumnya fardhu 'ain. Jadi apabila terjadi
kesalahan dalam membacanya adalah dosa. Untuk menghindari hal
tersebut pastilah seorang santri harus belajar dari seorang guru atau ustadz. (Surasman, 2002: 22).
·
Peran
Ustadz => Implementasi Pembiasaan
=> Pembiasaan membaca al-Qur’an
Dari keterangan diatas dapat
disimpulkan bahwa untuk pembiasaan membaca al-Qur’an perlu adanya implementasi
kebiasaan dan peran seorang ustadz kepada santrinya. (Apriyanti, Tesis, 2019: 40). Pembelajaran al-Qur’an di pesantren Tahsinul Quran At-Tahiyat
biasanya dilakukan setelah shalat jama’ah maghrib hingga jam 9. Pembelajaran
tidak hanya tentang membaca al-Qur’an, tertapi juga mempelajari ilmu tajwidnya
dan juga memperbaiki panjang pendeknya. Kegiatan pembelajaran dilakukan setiap
hari dan hanya libur setiap malam jum’at.
B.
Tujuan Pembelajaran Al-Qur’an Sebagai Habitus
Adanya habitus pembelajaran
al-qur’an dalam pesantren bertujuan untuk:
1.
Agar
bisa membaca al-Qur’an dengan tartil dan fasih.
2.
Menerapkan
kaidah-kaidah ilmu tajwid dalam membaca al-Qur’an. (Masadi, Skripsi, 2011: 16).
Dari tujuan pembelajaran al-Qur’an
dijadikan habitus, maka keutamaan yang diperoleh oleh santri di antaranya :
1.
Bisa
menjadi manusia yang lebih baik, karena tidak ada manusia diatas bumi yang
lebih baik dari orang yang mau belajar dan mengajarkan al-Qur’an.
2.
Mendapat
kenikmatan tersendiri, seseorang yang sudah tahu kenikmatan tadarus al-Qur’an
pasti tidak akan bosan setiap hari. (Amana,
Skripsi, 2015: 23).
Adanya habitus pembelajaran
al-Qur’an dipesantren menjadi sesuatu hal yang sangat positif, karena pesantren
sangan berperan dalam membentuk nilai yang sangat berlaku di lingkungan
masyarakat. Oleh karena itu pesantren mampu mengubah aktivitas kehidupan
masyarakat yang ada di sekitarnya dan memiliki kebiasaan yang berbeda lagi unik
dari kehidupan yang ada di luar pesantren melalui praktik-praktik kehidupan
atau kebiasaan yang setiap hari di lakukan. (Aliwafa, 2007: 33)
PENUTUP
Salah
satu habitus atau kebiasaan yang terjadi tanpa sadar dan terus menerus di
pesantren adalah pembelajaran, utamanya pembelajaran al-Qur'an. Meskipun awal
dari pembelajaran itu pasti diawali dengan adanya latihan-latihan terhadap
norma-norma kemudian membiasakan santri untuk melakukannya. Pembelajaran
al-Qur’an di pesantren Tahsinul Quran At-Tahiyat biasanya dilakukan setelah
shalat jama’ah maghrib hingga jam 9. Pembelajaran tidak hanya tentang membaca
al-Qur’an, tertapi juga mempelajari ilmu tajwidnya dan juga memperbaiki panjang
pendeknya. Kegiatan pembelajaran dilakukan setiap hari dan hanya libur setiap
malam jum’at.
Adanya habitus pembelajaran al-Qur’an dipesantren menjadi sesuatu
hal yang sangat positif, karena pesantren sangan berperan dalam membentuk nilai
yang sangat berlaku di lingkungan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Nafisyah, Ainin.
2015. Skripsi: “Mempelajari dan Mengajarkan al-Qur’an Sebagai Habitus”.
(Yogyakarta: Ilmu Al-Qur’an fan Tafsir)
Martono, Nanang.
2012. Kekerasan Simbolik di Sekolah Sebuah Ide Sosiologi Pendidikan Pierre
Bourdieu. (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada)
Ma'rifah, Siti. 2015. Pesantren Sebagai Habitus Peradaban Islam Indonesia. Jurnal penelitian,
vol. 9, no. 2.
Apriyanti, Eva. 2019. Tesis Pembiasaan Membaca al-Qur'an di Pondok Pesantren Al-Ishlah
Sendangagung Pacitan Lamongan. (Gresik: Universitas Muhammadiyah)
Amana, Fattich
Alviyani. 2015. Skripsi: “Pengaruh Kebiasaan Membaca Al-Qur’an Terhadap
Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas X di Madrasah aliyah Negeri
2 Kota Madiun”. (Malang: Jurusan PAI Fakultas ITK Uin maulana Malik Ibrahim)
Surasman, Otong. 2002. Metode Insani Kunci Praktis Membaca Al-Qur'an Baik dan Benar. (Jakarta:
Gema Insani)
Masadi, Ali.
2011. Skripsi: “Peningkatan Kemampuan Baca Tulis Al-Qur’an Melalui Permanfaatan
Alat Peraga Kartu Huruf Hijaiyah Bagi Siswa Kelas III MI Nurul Huda Raji
Kecamatan Demak Kota Tahun Pelajaran 2010/2011. (Semarang: Fakultas Tarbiah
IAIN Walisanga)
Aliwafa. 2017. Perubahan
Habitus Santri; Studi di Pesantren Badridduja Probolinggo. (Probolinggo:
Fakultas tarbiyah Institut Agama Islam Nurul Jadid)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar